Abu Nawas Syair Di Bawah Bantal
Dikisahkan dari Muhammad bin naïf` ia bercerita : bubuk nawas yakni sahabat saya, pada masa-masa ahir dari kehidupannya, komunikasi antara saya dan kehidupannya terputus, kemudian saya mendapatkan kabar kematiannya, gosip kematiannya itu menciptakan saya terpukul dan berduka,
Kemudian pada suatu waktu, dalam kondisi antara tidur dan terjaga saya bermimpi bertemu dengan bubuk nawas,
“ wahai bubuk nawas,” kata saya kepadanya
Sudah tidak saatnya lagi panggilan kunya ( julukan ) jawabnya,
“ al-hasan bin hany “ kata saya
“ ya “ jawabnya
Apa yang Allah telah perbuat terhadapmu? Tanyaku kepadany
“ Allah mengampuni saya berkat bait-bait syair yang saya baca, bait-bait syair itu berada di bawah lipatan bantal,
Kemudian saya menemui keluarga bubuk nawas, melihat kedatangan saya, merekapun tampak menyerupai mau menangis,
“ apakah sahabat saya bubuk nawas menulis sebuah syair sebelum meninggal dunia, tanyaku
“ kami tidak tahu, tetapi ia memang pernah meminta tinta dan kertas, kemudian ia menulis sesuatu, tapi kami tidak tahu, apa yang ia tulis waktu itu, “ jawab mereka
“ apakah saya di ijinkan melihat kamarnya,tanyaku kepada mereka,
Lalu saya masuk ke dalam kawasan tidur bubuk nawas dan mulai mengusut tiap bantal yang ada disana satu persatu, sampai ahirnya saya menemukan secarik kertas yang berisikan bait-bait syair sebagai berikut :
“ Tuhanku, bila memang dosa-dosa saya terlalu besar
Namun saya tahu, bahwa maafmu jauh lebih besar
Jika hanya orang baik saja yang sanggup berharap kepada-MU
Lalu kepada siapa seorang pendosa berdoa dan berharap
Tuhanku, saya berdoa kepada-MU dengan kesungguhan
Juga kerendahan diri sebagaimana engkau perintahkan,
Jika engkau menolak kedua tangan yang menengadah ini
Lalu siapa lagi yang akan berbelas kasihan kepada saya
Saya tidak punya wasilah apa-apa kepada-MU selain hanya
Pengharapan dan anugerah maaf-MU serta keislaman saya “


Posting Komentar untuk "Abu Nawas Syair Di Bawah Bantal"