Do`A Mustajab Musa Bin Al-Kadzim
Hisyam bin hatim al-ashom bercerita kepada kami, bahwa ayahnya hatim al-ashon bercerita kepadanya, bahwa syaqiq bin Ibrahim al-balkhi berkata : waktu itu saya pergi berhaji dan singgah di qodisiyah, saya melihat begitu banyak orang yang ingin menunaikan ibadah haji, menyaksikan bangunan-bangunan dan tenda-tenda lantas saya berucap “ ya Allah mereka semua ialah orang-orang yang tiba memenuhi panggilan-MU, maka jangan biarkan mereka kembali dengan tangan kosong, tanpa memperoleh apa-apa, “
Lalu saya melihat seorang perjaka tampan dengan kulit berwarna coklat, dia mengenakan baju luar yang terbuat dari materi bulu dan menyelubungi tubuhnya dengan mantel, sementara kedua kakinya mengenakan sandal, dia duduk menyendiri, dalam hati saya membatin “ tampaknya perjaka itu seorang sufi, dia ingin menjadi beban bagi orang-orang dalam perjalanan, saya akan menghampirinya dan menegurnya, supaya tidak berbuat ibarat itu “
Lantas saya berjalan mendekatinya, ketika melihat saya tiba menghamirinya, maka dia lantas berkata wahai syaqiq,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ
“HAI ORANG-ORANG BERIMAN, JAUHILAH PURBASANGKA ( KECURIGAAN ) KARENA SEBAGIAN DARI PURBA-SANGKA ITU DOSA qs, al-hujarat 12 “
Kemudia dia berlalu pergi dan meninggalkanku begitu saja, dalam hati saya bergumam “ ini luar biasa, dia menyindir dalam hati dan pikiran yang terbersit dalam benakku, bahkan dia juga menyebutkan namaku, dia niscaya seorang hamba Allah yang saleh, saya akan menyusulnya dan meminta maaf padanya,
Lantas saya bergegas mengejarnya, tapi saya kehilangan jejak, dan tidak berhasil mengejarnya, ketika say singgah di waqishah, tidak di nyana, saya melihat perjaka itu sedang sholat, dengan badan yang bergetar dan air matanya bercucuran, dalam hati saya berkata “ ini dia kawanku, saya akan menghampirinya, dan meminta maaf kepadanya “
Lantas saya menunggu sampai dia simpulan sholat, kemudian saya berjalan menghampirinya, ketika melihat kedatangan saya dia lantas berkata : wahai syaqiq bacalah ayat
وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ
“ DAN SESUNGGUHNYA AKU MAHA PENGAMPUN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAUBAT, BERIMAN, BERAMAL SHALEH, KEMUDIAN TETAP DI JALAN YANG BENAR qs, thaha 82 “
Lalu dia berlalu pergi meninggalkan saya begitu saja, dalam hati saya membatin “ perjaka ini ialah salah satu abdal ( salah satu kelompok wali ) dia dua kali mengetahui dan menyindir apa yang terbersit dalam hatiku
Ketika saya singgah di ribal, saya melihat perjaka itu berdiri di bersahabat sebuah sumur sambil memegang sebuah timba, tampaknya dia ingin minum, tiba-tiba timbanya terjatuh kedalam sumur, kemudian saya melihatnya menengadah ke atas, dan mendengar dia berucap “ ya Allah engkau tuhanku yang memberi air ketika saya sedang haus dan memberi makan ketika saya menginginkan makanan, ya Allah saya tidak mempunyai timba lain selain timba itu, maka janganlah engkau membuatnya hilang dariku “
Sungguh demi Allah saya melihat tiba-tiba air sumur itu naik ke atas, kemudian perjaka itu menjulurkan tangannya, dan mengambil kembali timbanya, kemudian memenuhinya dengan air, kemudian dia berwudlu dan shalat beberapa rakaat, kemudian dia beranjak di sebuah gundukan pasir, kemudian mengambil segenggam pasir dan memasukkannya kedalam timba yang dibawanya kemudian mengocoknya dan meminumnya, kemudian saya berjalan menghampirinya, menyapanya dengan ucapan salam, dan diapun menjawab salam saya, saya berkata kepadanya “ tolong beri saya makan dari sisa nikmat yang Allah berikan kepadamu “
Wahai syaqiq, nikmat Allah terus mengalir kepada kita, baik nikmat lahir maupun nikmat bathin, untuk itu, berbaik sangkalah engkau kepada Tuhanmu, dia berkata kepadaku
Lantas dia menyerahkan timba itu kepadaku, kemudian saya meminumnya, ternyata isi timba itu berkembang menjadi sawiq bercampur gula, demi Allah saya belum pernah meminum sawiq selezat da seharum sawiq tersebut, sayapun kenyang dan segar, selama beberapa hari sehabis itu saya tidak merasa lapar dan haus,
Kemudian saya tidak melihat lagi perjaka tersebut, saya gres melihat dia lagi ketika saya berada di makkah, di tengah malam itu saya melihat perjaka tersebut shalat di bersahabat qubbah asy-syarab dengan begitu khusyuk sambil bercucuran air mata, dia shalat ibarat itu sampai terbit waktu fajar, pada ketika melihat fajar sudah terbit, dia lantas duduk di daerah shalatnya, sambil bertasbih, kemudian dia berdiri dan pergi menunaikan shalat subuh,
Setelah shalat subuh, dia lantas thowaf kemudian dia pergi , sayapun mengikutinya, tidak usang kemudian saya melihat ternyata perjaka itu mempunyai sejumlah pengiring dan pelayan, waktu itu dia tampak berbeda dari sebelumnya pada ketika masih berada di tengah perjalanan, orang-orang berkerumun mengelilinginya dan mengucapkan salam kepadanya,
“ siapa perjaka itu” tanyaku, kepada salah seorang yang saya lihat disana,
“ dia itu ialah musa bin ja`far bin Muhammad bin ali al-husain, bin ali bin abi thalib 2 jawab orang itu,
“ tidak mengherankan jikalau keajaiban-keajaiban ibarat itu muncul dari seorang sayyid ibarat beliau, “ kataku,


Posting Komentar untuk "Do`A Mustajab Musa Bin Al-Kadzim"