Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibrahim Bin Adham Dan Nabi Khidir

Ibrahim bin adham bercerita, : saya menjumpai seseorang, lelaki di kota Alexandria, yang berjulukan aslan bin zaid, al-juhari, beliau bertanya “ siapakah engkau hai pemuda,”
Saya menjawab, “ seoran perjaka dari khurasan “
“ apa yang membuatmu keluar dari dunia “
“ alasannya kezuhudan terhadap dunia, dan mengharapkan pahala dari Allah “
“ seorang hamba tidak sanggup di katakan benar-benar mengharapkan pahala dari Allah Taala, hingga beliau sanggup memaksa dirinya untuk bersabar,”
Seorang yang bersama dirinya bertanya “ kesabaran apakah ? “
Ia menjawab “ tingkat kesabaran yang paling rendah adalah, ketika seorang hamba melatih dirinya untuk menahan dorongan keburukan-keburukan nafsunya, “
“ lantas sesudah itu apalagi “
“ bila beliau bisa menanggung kesulitan-kesulitan, Allah akan menganugrahkan cahaya keimanan kedalam hatinya “
“ apa cahaya keimanan itu “
Pelita dalam hatinya yang sanggup membedakan antara kebenaran dan kebathilan, serta yang tersamar, hai pemuda, bila engkau bergaul dengan orang-orang saleh dan berbicara dengan orang-orang abror ( yang terbaik ) maka hendaknya janganlah engkau menciptakan mereka murka kepadamu, alasannya Allah taala akan murka kepadamu alasannya kemarahan mereka, dan Allah akan ridho alasannya keridhoan mereka, hai pemuda! Ingatlah hal itu, tanggunglah kesulitanmu ( dalam menahan nafsu ) dan camkanlah!
Air mataku pun mengalir dan saya berkata, “ demi Allah tidak ada sesuatupun yang mendorongku untuk berpisah, dengan kedua orang tuaku, dan meninggalkan harta kekayaanku, kecuali alasannya impian mendahulukan perhatianku kepada Allah Taala, dank arena kezuhudan terhadap dunia”
“ janganlah menjadi orang yang bakhil “
“ apakah kebakhilan itu “?
“ berdasarkan penduduk dunia kebkhilan ialah ketika seseorang sangat kikir dengan hartanya, sedangkan berdasarkan penduduk akhirat, kebakhilan ialah ketika seseorang kikir terhadap jiwanya terhadap Allah, ketahuilah, bila seorang hamba telah berlaku murah jiwanya terhadap Allah pasti Allah akan menganugerahkan kedalam hatinya petunjuk dan ketaqwaan, kepadanya juga di berikan kedamaian, kewibawaan, amal perbuatan yang benar, logika yang sempurna, serta baginya juga di bukakan pintu-pintu langit, beliau melihat dengan hatinya ke pintu-pintu langit ketika pintu-pintu tersebut di buka, “
Seorang pria dari sahabatnya berkata “ pukullah dia, ( dengan hikmah ) dan buatlah beliau sakit, alasannya kami melihat beliau sebagai perjaka yang memiliki kualifikasi menjadi seorang wali “
Syaikh tersebut merasa bahagia mendengar ucapan sahabatnya, bahwa perjaka tersebut memiliki kualifikasi menjadi wali Allah,
Seeorang berkata kepadaku “ hai pemuda, engkau akan menemani orang-orang saleh, jadilah engkau tanah yang akan di injak oleh mereka, bila mereka memukulmu, mencercamu, dan mengusirmu, bila mereka melaksanakan hal itu terhadapmu, maka pikirkanlah dalam dirimu, darimana engkau datang, ? bila engkau berpikir menyerupai itu, pasti Allah akan menolongmu, dengan segala pertolongan-NYA, Dia akan memberikanmu pemahaman terhadap agama-NYA hingga mereka akan menerimamu dengan hati mereka, ketahuilah! Seoarang hamba bila di jauhi oleh orang-orang saleh, di hindari oleh orang-orang wara` dan di benci oleh orang-orang zuhud maka itu ialah bentuk kecaman Allah kepadanya, bila beliau telah mendapat ampunan dari Allah, pasti Allah akan mengarahkan hati mereka kepadanya, sedangkan bila beliau memberontak kepada Allah pasti Allah akan berikan kedalam hatinya kesesatan, dan kegelapan, sambil mencicipi kesempitan rizki da permusuhan keluarga, dan kebencian malaikat yang mencatat amal perbuatannya, demi Allah, tidak perduli beliau dimana, beliau akan binasa,
Saya berkata “ saya berteman dengan seorang lelaki antara kufah dan makkah, saya melihatnya bila sore hari beliau sholat dua rakaat, sesudah itu beliau berkata dengan perkataan yang tersembunyi antara dirinya, dengan jiwanya, tiba-tiba terlihatlah satu nampan dari tsarid ( roti di campur dengan daging berkuah bumbu ) di kanannya, dan satu kendi berisi air, beliau makan dari makanannya dan beliau juga memberiku makan “ mendengar itu, syaikh tersebut menangis, beliau berkata “ hai anakku!, beliau ialah saudaraku, dawud beliau tinggal di kawasan sesudah kawasan balkh, di sebuah kampung berjulukan mazirah thayyibah, merupakan satu pujian bagi tempat tersebut dengan keberadaan dawud di sana,
“ hai pemuda! Apa yang telah di katakannya kepadamu, dan apa yang telah di ajarkannya kepadamu, ?
Saya menjawab “ beliau telah mengajarkanku nama Allah yang maha besar, “
Syaikh bertanya “ apakah itu “
Saya menjawab “ saya merasa sangat berat menceritakan hal itu, alasannya saya pernah berdoa dengannya, dan tiba-tiba ada seseorang yang tiba ke tempatku dan berkata “ mintalah apa yang engkau mau, pasti engkau akan di beri “ maka saya merasa takut sekali
Syaikh berkata “ engkau tidak perlu takut, saya ialah saudaramu, khidir AS, saudaraku dawud telah mengajarkanmu ISMULLOH AL-A`DZOM ( nama Allah yang maha agung ) maka jangan hingga engkau gunakan doa tersebut bagi seseorang yang sedang berseteru denganmu, alasannya dengan demikian engkau akan mencelakakannya di dunia dan ahirat, namun berdoalah supaya Allah menguatkan hatimu, menciptakan berani sifat pengecutmu, memperkuat kelemahanmu, menciptakan tenang kegalauanmu, dan menciptakan rasa kondusif terhadap ketakutanmu,
Setelah itu beliau berkata “ hai pemuda! Orang-orang zuhud di dunia mengakibatkan keridhoan Allah sebagai baju mereka, kecintaan-NYA sebagai selimut, dan pengorbanan mereka terhadap Allah sebagai symbol mereka, maka Allah memperlihatkan anugerah kepada mereka yang melebihi anugerah yang di berikan kepada selain mereka, “ sesudah itu beliau pergi dan syaikh tersebut merasa sengang dengan kata-kataku, sesudah itu beliau berkata “ Allah akam memberikan perjalanan orang-orang menyerupai itu, serta orang-orang yang mengikutimu, hai pemuda! Sedangkan saya, saya telah memperlihatkan klarifikasi kepadamu, telah membuatmu lelah, serta telah mengajarkanmu apa yang Allah ajarkan kepada kami,
Setelah itu, sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, “ tidak sanggup di harapkan bisa menahan kantuk ketika ibadah di waktu malam bila perut kenyang, bila tidak sanggup di harapkan mendapatkan rasa kedekatan kepada Allah bersama akrab dengan sebagian makhluk, tidak sanggup di harapkan mendapatkan ilham, hikmah bila sambil meninggalkan ketakwaan, tidak bisa di harapkan mendapatkan kebenaran dalam perkaramu bila sambil berteman dengan orang-orang zalim,
Setelah itu sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, “ ya Allah hijablah kami darinya, alasannya saya tidak tahu bagaimana mereka pergi
WALLAHU A`LAM

Posting Komentar untuk "Ibrahim Bin Adham Dan Nabi Khidir"

close
Banner iklan disini