Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keramat Ibrahim Al-Khowwash, Ular Yang Berbicara

Hamid al-aswad bercerita kepada kami, bahwa ia mendengar ibrahim al-khowwash berkisah bahwa pada masa-masa awal memasuki dunia sepiritual, tawakkal mutlak, saya menjalani hidup di gurun dan hutan belantara, dan saya menikmatinya,
Suatu hari, saya pergi ke suatu lembah, saya tinggal disana selama tiga hari tiga malam, pada pagi hari keempat saya mendapati suatu kelemahan pada diriku dengan munculnya sifat kemanusiaan, sampai saya mewaspadai persoalan rezeki,
Beberapa ketika sesudah itu, tiba-tiba muncul empat ekor ular besar, bergerak menuju kearah saya sambil mendesis-desis, bersiul dan bersenandung dengan nada yang begitu menyentuh perasaan, sampai membuat saya menangis, kemudian salahsatu dari ular tersebut mengangkat kepalanya, dan berbicara dengan bahasa yang fasih, “ wahai Ibrahim, apakah engkau mewaspadai sang penciptamu, “
“ tidak, Alhamdulillah “ jawab saya
“ lantas kenapa engkau mewaspadai pemberi rizki untukmu? “ Tanya ular itu,
Perkataannya membuat saya kaget, kemudian saya berkata “ darimana engkau sanggup mengetahui hati dan pikiran saya “
“ Dia yang setiap ketika mengawasi sayatelah memberi saya taufik dan kemampuan untuk itu “ jawabnya, kami berasal dari negeri yang berbeda-beda, namun kami dipertemukan dan di satukan oleh tawakkal “ lanjutnya,
“ meskipun saya bertawakkal, tapi saya membutuhkan makanan, meskipun itu hanya kadang-kadang, “ kataku kepadanya
“ wahai Ibrahim, janganlah engkau menghakimi dan menilai apa-apa yang tersembunyi, bergotong-royong Allah memiliki hamba-hamba yang dibentuk kenyang dan segar oleh dzikir dan ingat kepada-NYA, sampai mereka tak lagi ingat apa yang di butuhkan makhluk untuk tetap hidup, hal itu tidak pernah terbersit dalam hati mereka, kecuali di saat-saat mereka mengalami kelesuan dan eksekusi “ katanya
Dalam hati saya berkata “ Subhanallah! Ular bisa berbicara ibarat itu, saya pun menangis
Lalu ular itu kembali berkata “ wahai Ibrahim, bukankah saya telah melarang engkau menghakimi dan menilai apa-apa yang tersembunyi serta meremehkan salahsatu makhluk-NYA, bergotong-royong Dia yang telah membuat bapakmu dari tanah, Dialah yang menimbulkan saya bisa berbicara, dan yang lebih menakjubkan dari itu wahai Ibrahim yaitu kami sebelumnya berada di suatu lembah yang berjarak perjalan satu bulan dari kawasan engkau disini, kemudian Allah mendatangkan kami dari kedatangan engkau di kawasan ini “
Sayapun merasa takjub dan berkata kepadanya “ diantara kalian semua, kenapa hanya engkau saja yang berbicara “
“ wahai debu ishaq, sesunnguhnya Dia punya tirai pembatas antara Allah dan makhluk-NYA, mereka itu punya sahabat-sahabat karib, para pembantu dan murid, mereka itu telah memasrahkan anggota tubuhnya kepada saya, dan menyetujui saya sebagai duta, bergotong-royong engkau akan mencapai tingkat tertinggi kebenaran dan ketulusan, dan engkau akan menjadi lambing ketawakkalan, engkau dan kawan-kawanmu berada di jalan kebenaran selamapara murid membisu dan menjaga susila dengan para duta mereka, ketika seorang duta sudah menyimpang dari jalan kebenaran dan para murid menginginkan kepemimpinan maka ia akan di hokum, dan eksekusi pertamanya yaitu para murid akan bersikap berani, lancing dan kurang latih terhadapnya, tidak mempedulikannya dan tidan menghargainya, kalau engkau melihat ada seorang murid berani berbicara di depan seorang duta sementara sang duta menahan diri dan membisu maka ketahuilah keberkahan telah di angkat “
Kemudian ular-ular itu menghilang,setelah itu saya tetap tinggal di lembah itu selama empat puluh hari, dan masih di liputi rasa kekaguman dari apa yang telah saya alami, saya sama sekali tidak ingat sedikitpun mengenai persoalan makan, minum, dan buang hajat, selama empat puluh hari itu pula saya shalat dengan wudhu saya yang pertamaketika saya pergi dari kufah,
Lembah tersebut berada di pedalaman kufah, kondisinya gersang dan sunyi, pada waktu pagi, dihari ke empat puluh, ular-ular itu kembali tiba dan mengucapkan salam kepada saya, kemudian sayapun menjawab salam mereka , lantas juru bicara mereka berkata “ wahai debu ishaq, saya memandang engkau yaitu orang bersih, selama empat puluh hari ini, oleh alasannya yaitu itu, saya memohon kepada Allah supaya Allah membuat engkau bisa merasakan sebagian dari kuliner orang-orang shadiq, dan saya menitipkan diam-diam engkau kepada Allah “
Waktu itu ular tersebut memegang bunga bakung di mulutnya, kemudian ia memberikannya kepada saya, lantas mereka pergi menghilang, waktu itu saya merasa duka berpisah dengan mereka, selama empat puluh hari, saya merasakan kelezatan dan rasa kenyang, saya juga mencium aroma harum seolah-olah saya berada di tengah-tengah para penjual parfum, lembah tersebut mengeluarkan aroma minyal kesturi, itulah insiden pertama yang Allah tampakkan kepada saya dan yang saya alami,

Posting Komentar untuk "Keramat Ibrahim Al-Khowwash, Ular Yang Berbicara"

close
Banner iklan disini