Kisah Dzun Nun Dengan Salah Satu Muridnya
Yusuf bin al-hasan ar-rozi bercerita kepada kami, “ ada yang bilang kepadaku bahwa dzun nun al-mishri “ ISMULLOHUL A`DZOM “ ( nama Allah yang teragung ) untuk itu, saya lantas berangkat ke mesir untuk menemuinya, ketika melihat diriku yang waktu itu berjenggot panjang sambil membawa rakwah ( tas yang terbuat dari kulit ) panjang, dzun nun merasa tidak suka dengan penampilanku tersebut, sehingga ia tidak memperdulikan kehadiranku,
Beberapa hari sehabis itu, ada spesialis debat menemui dzun nun,dan melaksanakan debat dengannya, dalam perdebatan tersebut, dzun nun tidak sanggup membantah argument-argumen orang tersebut,
Melihat hal itu, lantas saya memancing orang itu untuk berdebat denganku, dan ahirnya saya berhasil mematahkan argument-argumennya,
Karena insiden tersebut ahirnya dzun nun memahami kedudukanku, kemudian ia beranjak mendekatiku, memelukku dan duduk di depanku, padahal ia seorang yang renta sementara saya masih muda,
“ maafkan saya atas sikapku kemaren, saya waktu itu belum mengenal engkau,” kata dzun nun
Sayapun memaafkan dan memakluminya, semenjak ketika itu saya mengabdi kepadanya selama satu tahun, pada awal tahun kedua saya berkata kepadanya “ guru, saya telah mengabdi kepadamu, dan kini engkau punya satu kewajiban, yang harus engkau tunaikan untukku, ada yang bilang kepadaku bahwa engkau mengetahuinama Allah yang teragung, dan engkau sudah mengenal siapa diri saya, untuk itu, saya ingin semoga engkau memberitahukan ihwal nama Allah yang teragung itu kepadaku “
Dzun nun hanya membisu saja dan tidak menjawab apa-apa, tapi sepertinya ia menunjukkan instruksi kepadaku, bahwa ia akan memberitahukannya kepadaku,
Selama enam bulan berikutnya dzun nun membiarkan saya dan tidak menyuruh saya untuk melaksanakan apa-apa,
Kemudian pada hari itu, dzun nun menyiapkan sebuah wadah yang terbungkus dalam serbet, waktu itu dzun nun tinggal di al-ghizah ( giza )
“ kau tahu si fulan, seorang teman dari fushath itu? “ kata dzun nun kepadaku,
“ ya saya tahu “ jawabku
“ tolong antarkan ini kepadanya “ kata dzun nun,
Saya pun lantas mendapatkan bungkusan itu kemudian pergi ke kawasan yang di maksud,
Sepanjang perjalanan saya terus berfikir, orang-orang ibarat dzun nun mengirimkan sebuah hadiah untuk si fulan, kira-kira apa isi bungkusan ini? Ahirnya saya tidak tahan juga untuk melihat apa isi dari bungkusan tersebut, ketika hingga di jembatan, saya lantas mulai membuka bungkusan tersebut, ternyata isinya yaitu seekor tikus, sontak saja tikus itu eksklusif meloncat keluar dan lari, sayapun merasa dongkol sekali, dalam hati saya berkata “ dzun nun mempermainkan saya, orang ibarat saya ia suruh untuk mengantar tikus, untuk si fulan “
Lalu sayapun kembali pulang dengan perasaan mendongkol, ketika melihat raut wajahku, dzun nun tahu apa yang sedang saya rasakan,
Lalu dzun nun berkata kepadaku “ hai tolol, saya sesungguhnya hanya ingin menguji engkau, gres di beri amanat untuk mengantar seekor tikus ibarat itu saja engkau sudah menghianatinya, dan tidak menepatinya, lantas apakah engkau pantas saya percayai untuk mendapatkan amanat berupa nama Allah yang teragung? Pergilah engkau!
Mukhtashor tarikh dimasyQi ( 8/271 ) tarikh Baghdad ( 6/311 ) al-adzkiya ( 1/39 ) dan tsamarot al-auroq ( 1/52 )


Posting Komentar untuk "Kisah Dzun Nun Dengan Salah Satu Muridnya"