Kisah Luqman Al-Hakim, Putranya Dan Malaikat Jibril
Di ceritakan dari sa`id bin al-musayyib, bahwa luqman berkata kepada putranya, “ wahai anakku, apapun yang menimpa dirimu, baik yang engkau sukai maupun yang engkau benci, maka tanamkanlah dalam hatimu, bahwa itu yakni yang lebih baik bagi dirimu,”
Si anak menjawab “ saya belum dapat melaksanakan apa yang ayah minta tersebut, sebelum saya menandakan kebenarannya, “
Luqman berkata “ hai anakku, Allah telah mengutus seorang nabi, mari kita pergi menemuinya, alasannya yakni beliau mempunyai pejelasan, mengenai apa yang ayah jelaskan tadi kepadamu “ mari ayah, kita pergi menemui nabi tersebut “ kata si anak “
Stelah mempersiapkan bekal yang cukup, lantas mereka berduapun memulai perjalanan, luqman naik keledai sendiri, dan putranya pun menaiki keledai sendiri, sehabis berhari-hari melaksanakan perjalanan, kesudahannya mereka berdua hingga di daerah gurun, sebelum menempuh padang gurun tersebut mereka terlebih dulu mempersiapkan diri, alasannya yakni perjalanan yang akan mereka tempuh sangatlah berat,
Setelah beberapa usang berjalan menyusuri gurun, waktu siangpun datang, cuaca mulai panas menyengat, perbekalan air dan lainnya mulai habis, keledai yang mereka tunggangi berdua pun mulai lambat jalannya, kesudahannya luqman memutuskan untuk turun dari atas keledai, kemudian putranya juga melaksanakan hal yang sama, kemudian mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki,
Ketika sedang berjalan, luqman melihat bayangan hitam dan asap, mengepul di kejauhan, “ bayangan hitam berarti pohon dan asap berarti wilaayah pemukiman, berikut penduduknya “ kata luqman dalam hati,
Pada ketika mereka berdua mempercepat langkah kaki, tiba-tiba telapak kaki putranya menginjak penggalan tulang hingga tembus keatas, kemudian putranya pun jatuh pingsan, sementara luqman tidak menyadarinya, beliau gres mengetahui kalau putranya jatuh pingsan sehabis beliau menoleh ke belakang, melihat putranya jatuh, luqman pribadi bergegas menghampirinya, memeluknya dan berusaha mengeluarkan tulang tersebut dengan gigi-giginya, kemudian beliau menyobek sorban yang beliau pakai, untuk di gunakan membalut luka pada kaki si anak,
Luqman memperhatikan wajah putranya kemudian kedua matanya menangis, dan ada tetesan air matanya yang jatuh di pipi si anak, hal itu menciptakan si anak siuman, “ wahai ayah, kenapa engkau menangis, sementara ayah bilang bahwa apa yang saya alami ini lebih baikbagi saya, “ kata si anak ketika melihat ayahnya menangis,
Si anak kembali berkata “ bagaimana ini dapat lebih baik bagi saya, sementara bekal makanan dan minuman sudah habis, sedang kita berada di tengah gurun pasir ibarat ini, bila ayah pergi melanjutkan perjalanan sendiri, dan meninggalkan saya sendiri dalam kondisi begini pastinya ayah akan selalu di rundung duka, dan kesedihan dimanapun ayah berada, akan tetapi bila ayah tetap disini bersama saya, maka kita berdua akan mati, lantas, bagaimana ini semua dapat menjadi lebih baik?, “
Anakku, saya menangis alasannya yakni perasaan kasihan seorang ayah terhadap anaknya, sungguh andaikan bisa, ayah akan menebus seluruh dirimu dengan apa yang ayah miliki dari dunia ini, adapun pertanyaanmu ihwal bagaimana semua ini dapat lebih baik bagimu, maka barangkali petaka yang menimpamu ini yakni untuk menyelamatkanmu dari malapetaka yang mungkin jauh lebih besar, barangkali petaka yang menimpamu ini jauh lebih ringan dari petaka yang di jauhkan darimu yang akan menimpamu seandainya engkau tidak mengalami petaka ini,” kata luqman kepada sang anak “
Ketika sedang berbincang dengan anaknya ibarat itu, luqman melihat kearah depan dan ternyata beliau tak lagi melihat bayangan hitam dan kepulan asap, “ saya tidak melihat lagi kepulan asap, dan bayangan hitam itu, sudahlah, tidak apa-apa,barangkali Tuhan mempunyai rencana lain,” kata luqman dalam hati “
Ketika sedang merenung ibarat itu, tiba-tiba muncul dari kejauhan sosok penunggang kuda warna putih dan hitam, sosok itu mengenakan pakaian putih dan sorban putih yang melambai-lambai terkena terpaan angin, luqman terus memperhatikan sosok itu, ketika sudah bersahabat tiba-tiba sosok itu menghilang dari pandangannya,
Apakah engkau luqman?, Tanya sosok tak kasat mata tersebut, “ ya benar jawab luqman “ al-hakim itu, ? Tanya sosok tersebut, luqman menjawab “ ibarat itulah orang-orang bilang “
Apa yang di katakan anakmu yang kurang bakir ini kepadamu? Tanya sosok tersebut, “ wahai hamba Allah siapakah engkau sebenarnya? Saya hanya mendengar suaramu tapi tidak melihat sosokmu, “kata luqman kepada sosok tersebut,
“ saya Jibril, hanya malaikat muqorrobun, atau nabi yang di utus saja yang dapat melihatku, oleh alasannya yakni itu engkau tidak dapat melihat saya, “ jawab sosok tersebut yang ternyata yakni jibril AS, apa yang di katakana oleh putramu yang kurang bakir ini, Tanya jibril sekali lagi kepada luqman,
Jika engkau memang malaikat jibril, tentu engkau lebih tahu dariku apa yang di katakana putraku, kata luqman membatin dalam hati,
Jibril berkata “ saya tidak tahu apa-apa mengenai engkau berdua, kecuali hanya bahwa saya ingin melindungi engkau berdua, Tuhanku memerintahkan kepadaku untuk melenyapkan kota tersebut berikut semua orang yang berada di dalamnya, dan apa yang ada di sekitarnya, kemudian mereka memberitahuku bahwa engkau berdua ingin pergi ke kota tersebut, kemudian saya berdo`a kepada Tuhanku, biar menahan engkau berdua, jangan hingga engkau berdua berada di kota tersebut ketika saya menjalankan perinta pelenyapan terhadap kota itu, kesudahannya Tuhan menahan enkau berdua disini dengan cara menciptakan putramu mengalami hal tersebut, pasti engkau berdua sudah ikut lenyap tertelan bumi bersama para penduduk kota tersebut “
Kemudian jibril mengusapkan tangannya pada kaki putra luqman yang terluka, kemudian lukanya pribadi sembuh dan dapat bangkit ibarat semula, lantas jibril juga mengusapkan tangannya pada wadah makanan dan minuman milik luqman, kemudian wadah itu kembali penuh dengan makanan dan air minum
Kemudia jibril mengangkat luqman, putranya dan kedua keledainya, kemudian melemparkan mereka semuanya ibarat melemparkan burung ke atas, tiba-tiba mereka berdua sudah berada di rumah kembali,
ALLAHU AKBAR


Posting Komentar untuk "Kisah Luqman Al-Hakim, Putranya Dan Malaikat Jibril"